Rabu, 03 Desember 2008

Konsep Landak

Memilih Profesi : Menjadi Landak

The fox knows many things, but the hedgehog knows one big thing. Archilochus (7th-century b.c.e.)

Sebuah buku berjudul Good to Great yang terbit tahun 2001 memberikan wawasan baru bagaimana sebuah perusahaan bisa menjadi luar biasa. Ada lima ciri yang ditemukan oleh Jim Collins dan timnya dari riset selama 5 tahun terhadap 28 perusahaan terpilih yang diseleksi dari 1400 lebih perusahaan. Salah satu yang menarik adalah ‘konsep landak’ (Hedgehog Concept).

Kebanyakan kita adalah rubah (fox) yang mempunyai banyak talenta. Karena itu kita melakukan apa saja dan menyukai apa saja sehingga luput untuk mendapatkan apa yang paling penting dan unik dari diri kita. Perusahaan yang bertindak seperti rubah tidak pernah berhasil menjadi perusahaan besar, demikian kesimpulan penelitian Jim Collins. Justru perusahaan yang menemukan bertindak seperti landaklah yang bisa menjadi perusahaan hebat (great company). Saya kira demikian pula halnya dengan perjalanan hidup seseorang.

Kebanyakan orang mampu melakukan berbagai hal, sehingga tidak menemukan kontribusi unik dirinya yang dapat menghasilkan prestasi luar biasa.

Jim Collins dan tim nya memberi tiga kriteria bagi suatu keunikan yang dapat menjadikan perusahaan (dan juga individu) untuk menjadi ‘great’ :

1. Bisa menjadi yang terbaik. Apa yang Anda bisa menjadi yang terbaik di dunia? Hal yang sama pentingnya adalah apa yang Anda tidak bisa menjadi yang terbaik di dunia. Kebanyakan kita bisa sesuatu, namun kita tahu tidak akan menjadi yang terbaik dalam sesuatu itu. Intuisi kita tahu, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang lain, tapi terkadang kita takut untuk berpindah dari apa yang sudah kita lakukan sekarang. Bisa pada suatu hal tidak berarti dapat menjadi yang terbaik dalam hal itu. Sebaliknya, apa yang kita yakin kita bisa menjadi yang terbaik, boleh jadi saat ini belum kita kuasai penuh ilmunya. Yang penting adalah menemukan apa yang kita bisa menjadi yang terbaik di bidang itu.

2. Menemukan kunci dimana bisa mendapatkan laba terbesar. Dengan menemukan di mana laba terbesar berada, maka strategi perusahaan dapat diarahkan ke bagian tersebut. Terkadang laba didapat dari marjin keuntungan yang besar, terkadang dari volume yang besar. Contohnya, rental komputer mendapatkan laba bukan dari sewa komputer yang hanya Rp 1000,- per jam, tapi justru dari printer yang Rp 500,- per lembar. Bayangkan kalau ada mahasiswa mencetak tugas akhir, berapa pendapatan dari printer tersebut? Lebih besar daripada sewa komputer. Dengan menemukan kunci laba maka akan terjamin berlangsungnya keunggulan, karena uang adalah ‘energi’ bagi banyak hal di kehidupan masa kini.

3. Sesuatu yang Anda cintai untuk melakukannya. Anda punya ‘passion’ di sana. Kuncinya bukan berusaha menumbuhkan ‘passion’ tapi menemukan apa yang Anda punya ‘passion’ di situ.
Dalam bahasa Jim Collins :
To quickly grasp the three circles, consider the following personal analogy. Suppose you were able to construct a work life that meets the following three tests.
First, you are doing work for which you have a genetic or God-given talent, and perhaps you could become one of the best in the world in applying that talent. (“I feel I was just born to be doing this.”)

Second, you are well paid for what you do. (“I get paid to do this? Am I dreaming?”)
Third, you are doing work you are passionate about and absolutely love to do, enjoying the actual process for its own sake. (“I look forward to getting up and throwing myself into my daily work, and I really believe in what I’m doing.”)
If you could drive toward the intersection of these three circles and translate that intersection into a simple, crystalline concept that guided your life choices, then you’d have a Hedgehog Concept for yourself.

Biar mudah dipahami akan saya berikan contoh sederhana. Tentu Anda kenal Hermawan Kertajaya, ahli marketing pendiri MarkPlus. Dulunya dia guru SMA, lalu berpindah menjadi konsultan marketing perusahaan rokok, lalu akhirnya terjun menjadi konsultan marketing. Untuk itu dia mengambil kuliah Harvard jarak jauh, dan terus mendalami marketing hingga menjadi yang terbaik di bidangnya. Hermawan menemukan ‘konsep landak’ bagi dirinya.
Seperti halnya Hermawan, Ary Ginanjar Agustian juga mempunyai perjalanan hidup yang mirip. Sebelumnya dia adalah dosen, lalu menjadi sales produk pager dan security box, lalu melakukan lompatan besar setelah merumuskan konsep ESQ. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita sedang tekuni sekarang boleh jadi bukan konsep landak bagi kita, ada sesuatu di luar sana yang bisa menjadi konsep landak bagi kita. Maka, teruslah mencari.
Seringkali yang terjadi adalah kita menyukai sesuatu, bisa menjadi yang terbaik, tapi sayang tidak dapat menemukan dimana uangnya. Atau kita bisa mendapat uang dari sesuatu, bisa menjadi yang terbaik, tapi tidak punya passion. Terkadang pula punya passion, ada uangnya, tapi tidak bisa menjadi yang terbaik. Menjadi tantangan untuk menemukan hal yang memiliki ketiga ciri tersebut sekaligus.

Waktu kita di dunia ini terbatas. Bila memang Anda ingin memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini sekarang lah saatnya untuk mulai mencari kontribusi unik yang dapat membuat Anda menjadi sosok istimewa. Saya juga sama, masih terus mencari…
* sebenarnya sih, menurut saya rubah juga sudah menemukan ‘konsep landak’ yang paling cocok bagi dirinya, yaitu .. ya jadi rubah!
Anda dapat membaca tulisan Jim Collins di Hedgehog Concept. Tulisan lain yang menarik adalah The Fox and the Hedgehog.
Good to Great, by Jim Collins
Are You a Hedgehog or a Fox?
Chapter 5, pages 90–91

The fox is a cunning creature, able to devise a myriad of complex strategies for sneak attacks upon the hedgehog. Day in and day out, the fox circles around the hedgehog’s den, waiting for the perfect moment to pounce. Fast, sleek, beautiful, fleet of foot, and crafty—the fox looks like the sure winner. The hedgehog, on the other hand, is a dowdier creature, looking like a genetic mix-up between a porcupine and a small armadillo. He waddles along, going about his simple day, searching for lunch and taking care of his home.

The fox waits in cunning silence at the juncture in the trail. The hedgehog, minding his own business, wanders right into the path of the fox. “Aha, I’ve got you now!” thinks the fox. He leaps out, bounding across the ground, lightning fast. The little hedgehog, sensing danger, looks up and thinks, “Here we go again. Will he ever learn?” Rolling up into a perfect little ball, the hedgehog becomes a sphere of sharp spikes, pointing outward in all directions. The fox, bounding toward his prey, sees the hedgehog defense and calls off the attack. Retreating back to the forest, the fox begins to calculate a new line of attack. Each day, some version of this battle between the hedgehog and the fox takes place, and despite the greater cunning of the fox, the hedgehog always wins.
Berlin extrapolated from this little parable to divide people into two basic groups: foxes and hedgehogs. Foxes pursue many ends at the same time and see the world in all its complexity. They are “scattered or diffused, moving on many levels,” says Berlin, never integrating their thinking into one overall concept or unifying vision. Hedgehogs, on the other hand, simplify a complex world into a single organizing idea, a basic principle or concept that unifies and guides everything. It doesn’t matter how complex the world, a hedgehog reduces all challenges and dilemmas to simple—indeed almost simplistic—hedgehog ideas. For a hedgehog, anything that does not somehow relate to the hedgehog idea holds no relevance.

Princeton professor Marvin Bressler pointed out the power of the hedgehog during one of our long conversations: “You want to know what separates those who make the biggest impact from all the others who are just as smart? They’re hedgehogs.” Freud and the unconscious, Darwin and natural selection, Marx and class struggle, Einstein and relativity, Adam Smith and division of labor—they were all hedgehogs. They took a complex world and simplified it. “Those who leave the biggest footprints,” said Bressler, “have thousands calling after them, ‘Good idea, but you went too far!’ ”3

To be clear, hedgehogs are not stupid. Quite the contrary. They understand that the essence of profound insight is simplicity. What could be more simple than e = mc2? What could be simpler than the idea of the unconscious, organized into an id, ego, and superego? What could be more elegant than Adam Smith’s pin factory and “invisible hand?” No, the hedgehogs aren’t simpletons; they have a piercing insight that allows them to see through complexity and discern underlying patterns. Hedgehogs see what is essential, and ignore the rest.

Tidak ada komentar: